Selasa, 07 Januari 2025

Efek Meng-ASIhi Dengan Perilaku Anak Nanti

 

Oleh : Nesya Ardella Simamora

Meng-ASIhi adalah proses yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah bonding antara ibu dan anak. Ikatan emosional yang tercipta lewat moment meng-ASIhi ini menurut saya sangat mempunyai efek yang luar biasa terhadap kemudahan kita dalam mengatur anak dan membentuk anak menjadi pribadi yang baik. Dalam proses meng-ASIhi ternyata Sang Ibu sedang mentransfer kasih saying dan rasa aman lewat sentuhan kulit dan tatapan mata sang ibu dan sang anak. Sehingga timbullah rasa aman dan kepercayaan sang anak kepada orang tua sehingga dalam proses pengasuhan anak kedepannya sangat lebih mudah karena sang anak percaya bahwa sang Ibu adalah tempat ia mendapat kasih saying dan tempat yang nyaman. Dalam suatu penelitian mengungkapkan bahwa pemeberian ASI di tahun pertama kehidupan ank sangat berpengaruh tehadap tahap perkembangan selanjutnya yaitu tahap perkembangan emosional. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pemberian ASI merupakan suatu variabel penting bagi perkembangan seorang individu terutama dalam hal Kesehatan emosionalnya. Adapun faktor pendukung lainnya dalam pembentukan mental emosional seorang anak yaitu pendidikan ibu, pengetahuan dan sikap seorang ibu juga menjadi faktor penunjangnya.

Itulah sebabnya, didalam Alquran jelas Allah SWT menyuruh para ibu untuk menyusui pada surat Al-Baqarah ayat 233. Ayat tersebut berbunyi, "Dan para ibu, hendaklah menyusukan anak-anak mereka dua tahun penuh, (yaitu) bagi siapa yang ingin menyempurnakan penyusuan.

Sementara fenomena sekarang ini banyak dijumpai para ibu yang lebih memilih memberikan susu formula kepada anaknya  tanpa indikasi tertentu. Hanya karena para ibu ini enggan payudaranya mengendur atau lain sebagainya. Padahal memberikan ASI adalah perintang dari Allah langsung. Maka untuk para ibu yang mempunyai masalah dalam meng-ASIhi , ayo kita upayakan terlebih dahulu. Apalagi para newmom yang masih sangat minim pengetahuan, ayo kita belajar dan jika menemui masalah jangan langsung menyerah. Temui konselur menyusui atau membacalah. Saat ini sudah banyak informasi dan media belajar yag bis akita akses. Jangan malas ya bunda-bunda. Karena manusia-manusia yang hebat kuncinya ada di seorang Ibu.

Minggu, 05 Januari 2025

Ketipak-Ketipuk Sayang, Baju Raya Dah Beli Ke Sayang ?

 


Oleh : Nesya Ardella Simamora

 

Sebagai perempuan, saya sangat memahami sifat dasar perempuan yang menyukai shopping atau berbelanja, suka koleksi, suka hal-hal yang lucu dan gemesin. Apalagi setiap momen lebaran, beli baju baru adalah suatu budaya yang wajib dilakukan. Bahkan parahnya, ada yang berprinsip jika baju yang dipakai sudah pernah di unggah ke  Instagram, maka wajib tidak boleh dipakai dan di posting untuk yang kedua kalinya. Jadi setiap kali akan hangout  Bersama teman misalnya, wajib beli baju yang baru. Ini yang disebut dengan fast fashion.

Pasti istilah fast fashion ini sudah tak asing lagi ditelinga kita. Model pakaian yang sudah tidak tren dan akhirnya kita harus membeli pakaian yang sedang tren, dengan harga yang murah namun kualitasnya tidak tahan lama, mudah using dan tidak berkualitas. Namun diproduksi secara cepat dan banyak karena memnuhi permintaan pasar.  Dengan demikian fast fashion ini banyak memiliki dampak negatif terutama terhadap lingkungan. Produsen fast fashion memilih menekan biaya produksi agar bisa menghasilkan produk yang murah namun bisa memenuhi permintaan pasar dan sesuai dengan tren yang kekininan. Akibatnya banyak yang menggunakan bahan pewarna textile yang tidak ramah lingkungan. Selain itu, banyak produsen yang menggunakan bahan polyester karena cenderung lebih murah. Namun, polyester sebagai bahan tekstile sintesis tidak dapat terurai secara hayati sehingga limbahnya dapat mengeluarkan mikroplastik yang dapat merusak ekosistem.

Nah, jika kita sudah tau dampak negatif dari fast fashion ini, apakah kita masih mau mengikuti tren yang tidak ada habisnya dan menjadi korban atas Tindakan kita sendiri ?. tentu jika kita menggunakan akal kita dengan baik, kita akan memilih untuk mengatakan tidak. Lalu, apa langkah-langkah yang bisa kita lakukan agar kita terhindar dari FOMO fast fashion ini ?. mulai sekarang kitab isa memikirkan untuk membeli sesuatu yang benar-benar butuh. Belilah jenis fashion yang timeless atau tidak termakan zaman sehingga kita tidak disibukkan untuk berfikir bahwa fashion yang kita pakai jadul atau kuno. Manfaatkan barang yang dimiliki dengan teknik capsule wadrobe yaitu konsep berpakaian yang sederhana dengan memilih pakaian yang multifungsi dan mudah di padu padankan dengan pakaian yang lain sehingga seperti kelihatan menggunakan model pakaian yang berbeda padahal hanya mencocokkan pakaian yang satu dengan yang lainnya. Semoga berhasil .

Benarkah Kucing Bisa Membuat Kemandulan ?

 


Oleh : Nesya Ardella Simamora

               Kucing adalah hewan yang sangat disenangi banyak orang sebagai hewan peliharaan. Tak jarang hamper disetiap rumah warga Indonesia ada yang memelihara hewan kucing bahkan lebih dari satu ekor. Kucing memang hewan yang lucu apalagi banyak jenis kucing yang saat ini kita lihat, bahkan dengan harga yang fantastis pun tak sedikit orang yang rela mengeluarkan kocek untuk mengadopsi hewan kucing ini. Apalagi bagi seorang muslim, hewan kucing ini adalah hewan yang paling disenangi oleh Rasulullah SAW. Namun banyak informasi menyatakan bahwa kucing dapat membuat kemandulan. Benarkah ?.

               WHO mendefenisikan kemandulan adalah suatu penyakit pada sistem reproduksi wanita dan pria yang ditandai kegagalan dalam kehamilan atau ketidakmampuan untuk hamil. Banyak faktor yang menyebabkan kemandulan seperti gangguan hormonal, merokok, infeksi menular seksual, obesitas, atau kondisi dan penyakit tertentu yang menyebabkan tidak bisa hamil yaitu penyakit dengan infeksi Toksoplasma. Toksoplasma ialah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Toksoplasma Gondi. Toksoplasma Gondi ini bisa menginfeksi hewan seperti kucing dan menjadikan kucing sebagi inangnya dan media penularannya adalah kotoran kucing. Jadi yang menyebabkan kemandulan bukanlah kucing itu sendiri melainkan parasit Toksoplasma yang menginfeksi kucing lalu kucing yang terinfeksi tersebut mengeluarkan tinja yang tercemar toksoplasma. Dan ketika manusia kontak dengan dengan tinja tersebut maka terjadilah penularan. Namun bukan hewan seperti kucing saja yang bisa terinfeksi, menurut dinas peternakan dan Kesehatan hewan hewan lain seperti burung, kelinci, anjing, tikus, babi, kambing, mamalia lainnya, bahkan manusia juga bisa terinfeksi.

               Telur toksoplasma yang keluar Bersama tinja hewan yang terinfeski itu dapat hidup selama setahun di tanah. Jika tertelan manusia, telur akan membiak lalu masuk ke jaringan otak, jantung dan otot. Lebih bahaya jika yang terinfeksi adalah ibu hamil. Janin juga akan ikut terinfeksi toksoplasma dan menyebabkan kondisi medis yang serius seperti keguguran, kehamilan premature, bahkan kecacatan. Pada bayi bisa mengakibatkan enchepalus ( tanpa tulang tengkorak), hydrocephalus (pembesaran kepala) atau bahkan kematian.

Pada kebanyakan orang yang mempunyai imunitas tubuh yang kuat, infeksi toksoplasma ini sering tidak menimbulkan gejala dan biasanya orang yang mendapat gejala toksoplasma yang parah yaitu, ibu hamil, orang dengan system kekebalan tubuh yang lemah termasuk pengidap HIV, dan bayi baru lahir. Gejala toksoplasma yang parah yaitu menyerang otak, mata dan organ lainnya.

Nah pertanyaan berikutnya, apalah toksoplasma menyebabkan kemandulan ?. Dalam beberapa penilitian mengungkapkan dalam siklus hidup Toksoplasma, setelah menelan parasit ini, biasanya parasit ini akan terlokalisasi di organ yang berbeda termasuk organ reproduksi pria dan Wanita. Jadi, beberapa infeksi dapat menyebabkan beberapa efek buruk pada fungsi reproduksi. Jadi beberapa hal pencegahan dapat dilakukan untuk menghindari terinfeksi dari parasite Toksoplasma ini.

Untuk para pecinta hewan terutama kucing, bukan tidak boleh memelihara kucing. Namun sebaiknya kebersihan kucing tersebut. Gunakan sarung tangan ketika membersihkan kotorannya. Sering lah membersihkan kandangnya dan pastikan kucing tidak memakan tikus. Karena kebanyakan kucing yang terinfeksi toksoplasma ialah kucing liar dibanding kucing yang dipelihara dan makanannya terjaga.  

Jumat, 03 Januari 2025

Wanita Muda Beberapa Tahun Lalu

 

Oleh : Nesya Ardella Simamora

 

               Aku seorang Wanita muda beberapa tahun lalu, yang isi kepalanya banyak rencana, banyak cita-cita, banyak maunya tapi kadang rasanya mau meledak saja. Ya, saat itu darah muda memang mengalir deras di venaku. Wanita yang dulunya selalu ingin menantang dirinya. Berpetualang hingga jauh ke ujung negeri. Merasakan hidup ditempat yang asing dan jauh dari hingar bingar. Keluar dari comfort zone. Merantau. Karena ‘katanya’ orang yang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Demikian Imam Syafi’I memberi nasehat. Mendengarnya membuat wanita muda beberapa tahun lalu membara semangatnya. Pergi mencari hikmat di titik bumi Indonesia lainnya. Bahkan menghilang bertahun bak ditelan bumi. Ya ! Aku pernah hilang menyatu dengan hutan di pedalaman Papua. Diperbatasan negeri tanpa sinyal, tanpa listrik dan hidup jauh dari peradaban kota. Sebegitunya darah muda yang mengalir saat diriku masih bisa dibilang “gadis petualang”. Semua hal ingin kucoba dan prinsipnya hanya “push your limit nesya !”. Hingga saat ini kalau membayangkan kondisi waktu itu, aku masih  bertanya-tanya, wah, bisa ya ternyata aku hidup disana dan kembali dengan ‘hidup-hidup’. (Hahhaa)

               Demikian wanita muda beberapa tahun lalu. Lantas, sekarang bagaimana kabarnya? Tanyaku pada diriku sendiri. Tetap saja masih seperti yang dulu, wanita yang penuh dengan ambisi namun sekarang langkah kakinya yang menjadi agak  sempit. Tak bisa sebebas burung yang dulunya terbang sesuka hati kemanapun dan kapanpun. Kini wanita itu bertransformasi menjadi seorang Ibu.  Ibu dengan tiga anak. Sudah lama pun rasanya tak menghirup aroma bandara, yang dulunya bandara itu tempat hibernasi. Tak mudah menjadi seorang ibu ternyata ya ! hahhaa You know what I mean. Tapi terlepas dari segala yang kusebut ‘kebebasan, keterbatasan’ tak bisa mengalahkan kesyukuranku atas gelar ibu yang kusandang saat ini. Kurasa ini kasta tertinggi dari semua  challenges yang sengaja kuambil.

               Kenapa? Satu alasan utama yaitu pahalanya di hadapan Allah itu yang gak main-main. Wanita dengan kodratnya menjadi seorang ibu. Allah telah men-design sebegitu luar biasanya makhluk Wanita ini,  Allah menyiapkan sebuah tempat Bernama Rahim didalam tubuhnya. Tempat seorang makhluk Allah tumbuh hingga nanti dilahirkan kedunia. Dan menjadi madrasah pertama bagi makhluk yang dilahirkannya adalah peran yang luar biasa. Peradaban ini ternyata memang dimulai dari seorang Wanita. Bagaimana bentuk peradaban kedepannya, itu ditentukan bagaimana Wanita-wanita dimuka bumi ini menjalankan perannya sebagai sekolah pertama bagi seorang insan di bumi ini. Interesting !.

               Wanita muda beberapa tahun lalu hanya seorang manusia biasa yang kadang dalam prosesnya yang kini menjadi seorang ibu pun tak jarang menjumpai banyak kerikil-kerikil. Bukan kerikil bahkan, kadang malah bongkahan bebatuan yang yang mau disingkarkan udah gak bisa. Aku sebut bongkahan bebatuan ini adalah “rasa syukur”. Ya, disebut sebagai bongkahan bebatuan besar jika diri ini kehilangan rasa syukur.  Karena merasa jenuh, merasa dirinya tak seperti dulu lagi, merasa mimpinya habis terkubur, merasa tak bisa melanjutkan cita-cita. Hanya karena saat ini dia harus struggle dengan segala prosesnya seorang ibu, merawat dan menjaga anak-anaknya. Dia kehilangan jati diri. Dia lupa apa yang didepan matanya ada nikmat yang luar biasa. Semua kenikmat yang ada sudah tak tampak lagi dimatanya karena tertutup oleh hilangnya rasa Syukur. Dulu kamu mengenal istilah ‘hibernasi’. Sekarang mengapa tak sebut saja bahwa ini adalah saat kamu hibernasi dahulu sebelum melanjutkan segala cita-citamu yang tertunda. Fokus dulu denga napa yang ada dihadapanmu saat ini. Semua impianmu pasti akan menunggu waktumu yang tepat untuk dijemput. Mereka tidak kemana-mana. Mereka tetap ada difikiranmu. Semua ada waktunya. Jalani saja dan nikmati segala proses yang ada didepan matamu saat ini. Nanti kita berjumpa di saat yang tepat lagi tentu dengan versi Wanita muda beberapa tahun lalu yang sudah agak tak muda. Mwehehe. Good luck duhai wanitaku.  

Kamis, 02 Januari 2025

Buat Trend “FOMO” Healthy Life Style

Oleh : Nesya Ardella Simamora   

Berbicara tentang peningkatan derajat kesehatan Masyarakat maka kita harus memperhatikan faktor-faktor determinan Kesehatan Masyarakat. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi Kesehatan Masyarakat adalah  faktor lingkungan, faktor gaya hidup, faktor pelayanan Kesehatan, dan faktor genetik. Dari keempat faktor tersebut, faktor yang sangat mempengaruhi adalah faktor lingkungan dan faktor gaya hidup. Namun, sering sekali Masyarakat focus kepada pelayanan Kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitative saja. Banyak sekali Masyarakat yang berobat ke fasilitas Kesehatan dibanding dengan melakukan pencegahan dengan memperhatikan faktor utama penyumbang peningkatan derajat Kesehatan yaitu faktor lingkungan dan faktor gaya hidup.

               Pencegahan lebih baik dilakukan dibanding pengobatan. Dimulai dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memperbaiki serta menjalani pola hidup bersih sehat. Inilah yang perlu dipromosikan kepada Masyarakat lewat pelayanan Kesehatan primer seperti puskesmas yang ada ditiap daerah. Jika faktor determinan seperti lingkungan dan gaya hidup diperbaiki, maka derajat Kesehatan Masyarakat dipastikan akan dapat meningkat.

Lalu, apa langkah strategis yang bisa diterapkan agar tujuan peningkatan Kesehatan Masyarakat dapat diwujudkan ? Saat ini sudah banyak media media promosi yang beredar berisikan informasi tentang Kesehatan. Namun apakah hanya cukup sekedar memberikan informasi Kesehatan  yang hanya berisi tulisan-tulisan yang mungkin bahkan orang enggan untuk membacanya. Atau hanya sekedar cuap-cuap didepan forum sosialisasi lalu berharap derajat Kesehatan Masyarakat akan meningkat ?.

Menurut saya sudah saatnya kita memakai satu jurus yang mempunyai pendekatan lebih efektif kepada masyarakat. Data dari badan pusat statistik tahun 2024 tercatat bahwa demografi Indonesia saat ini diisi oleh paling banyak usia 15-34 tahun. Ini artinya penduduk Indonesia saat ini dominan adalah usia produktif. Atau lebih dikenal dengan istilah Gen Millenial ataupun Gen Z. Banyaknya influencer media social seperti tiktok ataupun Instagram “seliweran” dengan konten-konten menariknya sehingga menimbulkan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Saat ini segala trend yang muncul harus banget diikuti. Karena kalau tidak, terutama gen Z akan merasa tertinggal. Sejatinya manusia ini sangat suka meniru. Apalagi melihat visual yang ada dihadapannya sangat menarik, otak manusia langsung bisa merespon dan memprosesnya dengan lebih cepat.

Maka saya terpikir kenapa gaya hidup sehat tidak dijadikan sebuah trend yang digaungkan oleh para influencer atau role model ataupun yang sering Gen Z sebut sebagai selebgram atau tiktokers. Saya terfikir bagaimana pemerintah berjalan dan bekerja sama dengan anak-anak muda dengan menjadikan anak-anak muda konten creator ini sebagai “Agent Rahasia” dalam menyebarkan dan membangun trend FOMO healthy life style ini. Jadi Pemerintah bisa merekrut para influencer yang mempunyai pontensi tinggi dan concern dengan healthy life style ini dan membuat langkah strategis untuk membangun paradigma dan kebiasaan bahwa anak muda itu keren kalau  melek tentang  Kesehatan diri sendiri.

Nah, Agen Rahasia ini gak perlu di beritahu kepublik. Nanti malah terbangun kesan “Oh, ya wajar sih dia buat konten yang sehat-sehat kan dia memang kerja nya itu”. Karena memang pola berfikir manusia itu agak unik ya, jadi usahakan misi ini tetap rahasia agar proses membangun trend FOMO healthy life style nya lebih tepat dan berjalan mulus. Agen Rahasia yang telah direkrut oleh pemerintah harus bersatu dan secara massive membuat konten-konten menarik yang membuat para viewers ingin mengikuti healthy life style mereka.

 

 

 


Rabu, 01 Januari 2025

Yakinkah Eliminasi TB 2030 ?

oleh : Nesya Ardella Simamora

                

Indonesia dalam catatan laporan World Health Organization (WHO) dikatakan sebagai penyumbang kasus TBC tertinggi nomor dua di dunia setelah India dan saat ini dari tahun 2020 hingga tahun 2023 dilaporkan jumlah penderita TBC di Indonesia semakin meningkat.Mengapa hal ini bisa terjadi ? Bukankah Indonesia mempunyai visi “Eliminasi TB 2030” yang kelihatannya tidak sejalan dengan laporan yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan kasus TB di Indonesia. Bukannya malah berkurang ditiap tahunnya malah sebaliknya. 

                Mengapa TB di Indonesia masih belum bisa dibasmi ? Apakah masalahnya terletak di anggaran yang kurang ? Namun hal ini sangat mustahil untuk dijadikan sebuah alasan mengapa permasalahan TB ini masih belum bisa ditangani secara tuntas karena sejauh ini sudah banyak bantuan dari luar negeri dan komitmen bersama secara internasional dan nasional yang dituangkan dalam End TB Strategy. Jika bukan titik permsalahannya terletak dianggaran, jadi apakah yang membuat TB ini semakin merajalela jumlah kasusnya ?

               Memang permsalahan Tb ini adalah suatu perkara yang holistik. Faktor resikonya yang banyak mulai dari faktor gizi, faktor lingkungan, faktor ekonomi dan juga bahkan faktor kepercayaan. Masih banyaknya mansyarakat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sehingga untuk memenuhi standar makanan bergizi setiap harinya, banyak masyarakat yang masih belum mampu. Sehingga gizi yang tak terpenuhi menyebabkan seseorang mengalami penurunan imunitas dan akhirnya sangat mudah  diserang penyakit. Rumah yang berdempetan dan sangat kekurangan ventilai menimbulkan lingkungan yang lembab dan sangat disukai oleh bakteri untuk berkembang sehingga kejadian TB sangat mudah sekali terjadi. Dan masalah kepercayaan bahkan menjadi faktor resiko TB. Masayarakat terutama yang tinggal didaerah pedesaan masih sangat mempercayai hal mistis. Tidak sedikit yang masih percaya bahwa seseorang yang dijumpai batuh darah masyarakat setempat masih menyimpukan bahwa  seseorang yang batuk darah tersebut adalah korban guna-guna yang akhirnya tidak diobati dengan tepat.

               Melihat berbagai permasalahan ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwasanya , penyakit TB ini adalah masalah yang sangat kompleks. Untuk itu dalam memberantasnya, diperlukan keterlibatan banyak pihak. Bukan hanya tugas seorang tenaga kesehatan namun upaya ini perlu dilakukan secara gotong royong. Pemerintah Pusat dan daerah, Tenaga Kesehatan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Masyarakat itu sendiri. Sudah saatnya kita berfikir untuk tidak hanya sekedar memberikan informasi demi informasi kepada masyarakat. ta[i sejatinya kesehatan masyarakat itu adalah membuat strategi-strategi pendekatan yang tepat kepada masyarakat. 

               Jika semua elemen bersatu saya yakin visi eliminasi TB 2030 di Indonesia pasti akan bisa kita wujudkan.Promosi kesehatan bukan lagi sekedar membagikan leaflet atau sejenisnya, tapi sudah saatnya kita berfikir langkah-langkah inovatif yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan masalah yang holistik ini.

 


Kamis, 21 Juni 2018

Ribet nikah di Binjai ? BINJAI punya prosedur menikah yang berbeda ? Pertama di INDONESIA


oleh : Nesya A. Simamora

        Judul diatas sebuah pertanyaan atau pernyataan dari kamu ga sih ? mungkin bakal penasaran kenapa aku kasih judul ini ditulisanku kali ini. Okey, baiklah akan aku curhatkan segala isi perasaanku. Btw guys, aku baru aja melangsungkan pernikahan tanggal 10 April 2018 lalu, di kota kelahiranku Binjai tercintaaahhh….
     Alhamdulillah segalanya lancar setelah beberapa ketakutan-ketakutan yang menurut orang lain “wajar” untuk dialami calon pengantin dan apalagi aku gak stay di Binjai. Saat itu dan sekarang aku tinggal di Lampung untuk menyelesaikan amanah suci, Eaak !! kebetulan aku mengikuti salah satu program prioritas nasional dari kementerian kesehatan setelah sebelumnya aku ditugaskan di Papua selama 2 tahun dan aku melanjutkan penugasan yang kali ini ditempatkan di Lampung, juga akan tinggal disini 2 tahun kedepan. Beside, calon suamiku yang sekarang udah jadi suami ( #yihaaa…) juga tinggal di Jakarta, sehingga segala urusan pernikahan ini aku sangat mengandalkan keluarga tercinta di Binjai. Baik dari segala dokumen persyaratan nikahku hingga segala pernak-pernik pernikahanku mulai dari yang terkecil hingga yang ribet-ribetnya.

             Nah, karena jarakku yang jauh, menjadi salah satu kendala yang cukup berarti menurutku. Aku awalnya berfikir untuk mendaftar pernikahan di KUA Binjai, hanya akan berhubungan dengan dokumen persyaratan pernikahan yang aku gak akan jelaskan apa aja dokumennya ditulisan ini ya guys, bisa browsing kan ? hehe

       Dokumen persyaratan telah aku dan calon suamiku lengkapi pada saat itu. Memang agak mepet sih, dari jarak pendaftaran ke KUA ke hari-H pernikahan hanya tinggal tersisa 2 minggu lagi. Tiba-tiba aku di telfon untuk diminta segera standby di Binjai. Karena berhubung pekerjaan yang ada di Lampung ini tak bisa aku tinggalkan, aku mulai bingung.  Ternyata di Binjai, peserta calon pengantin harus mengikuti bimbingan wajib serta beberapa persyaratan lainnya yang mewajibkan calon pengantin yang bersangkutan harus mengikutinya dan tidak bisa didispensasi.
What ???? aku baru dengar yang beginian, Setelah menjelaskan ke pimpinan, awalnya memang pimpinan sempat bingung dan bertanya kenapa buru-buru dan terlalu cepat untuk mengambil cuti? Setelah aku jelaskan blab bla bla. Akhirnya aku bisa pulang ke Binjai lebih cepat.
  
         Okey, introduction-nya udah cukup kali ya, nah sekarang masuk ke inti. Ternyata Walikota Binjai, bapak HM Idaham telah mengeluarkan peraturan yang mengatur mengenai pernikahan di kota Binjai itu sendiri. Nah, dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, warga Binjai yang akan melangsungkan pernikahan harus melewati beberapa tahapan diantaranya test urine, suntik TT (Tetanus toxoid) dan bimbingan konseling langsung dari psikolog. Untuk mengakomodir kegiatan ini, maka pemerintah kota Binjai membuka Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (Pusyan Gatra). Yang melatarbelakangi program ini adalah keprihatinan atas semakin meningkatnya jumlah perceraian disebabkan masalah ekonomi dan penyalahgunaan narkoba. Juga dengan adanya Pusyan Gatra ini, diharapkan dapat menekan angka pengguna narkoba yang ada di Kota Binjai.

         Lantas, gimana dong kalau ada yang ternyata ketahuan mengkonsumsi narkoba ?
Nah, kepala BNNK Binjai, AKBP Safwan Khayat mengatakan, bagi pasanagn calon pengantin yang ternyata dijumpai positif mengkonsumsi narkoba akan dilakukan penilaian (Asessment) terlebih dahulu dan akan diinformasikan ke keluarga yang bersangkutan. Apakah akan menerima calon pasangannya yang terjangkit narkoba, dengan cara menikah terlebih dahulu lalu dilakukan rehabilitasi atau PUTUSSSSSSSSS….. huhuhu (Lo gue End) !!! Hal ini diserahkan ke keluarga.

    Dan juga proses rehabilitasi akan dilakukan tergantung sejauh mana yang bersangkutan mengkonsumsi narkoba, jika yang bersangkutan adalah golongan pemakai ringan, akan dilakukan rehabilitasi jalan. Sedangkan untuk pemakai berat, maka akan dilakukan rehabilitasi inap, begitu menurut bapak Safwan Khayat.

         Dan ternyata guyss, fyi, Program Pusyan Gatra ini adalah Pertama di Indonesia. Binjai memiliki prosedur menikah yang ketat dan mudah-mudah dapat menekan jumlah para pengguna Narkoba. Semoga dapat menginspirasi wilayah-wilayah lain di Indonesia.

        Jadi kesimpulannya, dibalik kerempongan yang aku alami akibat jarak yang jauh, ada misi yang hebat…. #Ahaha. Untuk Binjai yang bersih dari NARKOBA, patuhilah dan ikutilah prosedur yang ada. Dan bagi anak muda Binjai, NARKOBA bisa menghancurkan SEGALANYA !! Menghancurkan diri sendiri, menghancurkan kehormatan keluarga dan menghancurkan CINTA !!! Makanya !! Jauhi Narkoba, dekati Sang Pencipta !!!

Hidup Binjai !!! Bangga Jadi ANAK MUDA BINJAI !! BINJAI CERDAS !!

Ketika Rasa Malas Itu Muncul

by : Nesya Ardella Simamora Rutinitas yang kita lakukan setiap hari, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur saat malam hari, memang sa...